Pages

Kamis, 30 Juli 2009

Hati Ibu - Cerpen Hari Ibu

Aku melangkah tergesa. Tak sabar agar segera sampai di rumah. Dalam benakku tergambar senyum mengambang di bibir Ayah. Membayangkan senyum Ayah kedua kaki jenjangku semakin gesit berloncatan.
“Aku menang lomba menulis cerpen, yah,” ucapku begitu menginjak teras sambil memamerkan piala di tanganku.
Ayah menurunkan koran yang sedang dibacanya lalu menatapku sebentar, setelah itu membaca lagi.
Melihat wajah datar Ayah senyum di bibirku surut. Bergegas aku masuk rumah, menemui ibu.

“Ibu,” panggilku.
Tidak ada jawaban.
“Ibu,” ulangku.
Masih bisu. Kucari ke kamar, tak ada, di dapur aku juga tak menemukan ibu.
Kutinggalkan dapur lalu masuk kamar. Kutaruh piala kuning keemasan itu di atas meja belajarku. Kurebahkan tubuh di kasur sambil memejamkan mata. Tapi baru beberapa menit aku rebahan sepasang telingaku mendengar suara ibu dari luar.

“Dira mau hadiah apa?”
“Dira minta dibelikan sepeda motor,” suara Dira, kakakku.
“Keinginanmu nanti ibu sampaikan pada ayah,” sahut ibu.
“Dengan atau tanpa persetujuan ayah Dira harus punya motor,” Dira ngotot.
Pelan-pelan kuseret langkah ke luar kamar. “Ibu, dari mana?” tanyaku.
“Dari MP. Dira juara satu lomba fashion di Mall Pekanbaru,” kata ibu dengan mata berbinar.
Aku tersenyum sambil menyalami Dira.

“Itu apa?” tanya ibu melihat piala di tanganku.
“Farah juara dua lomba menulis cerpen antar fakultas,” kataku.
Ibu diam.
“Boleh di pajang di lemari depan, Bu?”
Ibu menggeleng, “Disimpan di kamar saja. Lemari depan khusus tempat piala-piala milik Dira,” tegas ibu.
Ada perih di ujung hatiku.

***

Beberapa hari setelah kejadian itu aku membawa satu tas besar pakaian untuk menginap di kost Ummu, teman serujusanku. Jarak kost Ummu hanya beberapa meter dari kampus.
“Sudah bilang sama ibu mau nginap di sini?” tanya Ummu.
Aku menggeleng, “Ibu tidak akan kehilangan meskipun aku mati.”
“Jangan bicara seperti itu.”

“Ibu baru ribut kalau Dira yang hilang.”
“Jangan terus kau pupuk cemburumu.”
“Aku tak akan cemburu andai mereka tak pilih kasih.”
“Mungkin seperti itu cara mereka menyayangi kalian.”
“Entah,” kataku malas.
Aku membalikkan tubuh memunggungi Ummu. Diam-diam kuseka mataku yang basah.

***

Seperti dugaanku ibu tak peduli meski aku tak pulang berhari-hari. Ayah pun tak risau meski anak gadisnya tak memberi kabar.
“Ummu, aku minta izin untuk tinggal di sini satu minggu lagi,” kataku setelah beberapa hari berselang.
“Aku boleh saja. Tapi kau kasih kabar dulu ke ortu,” sahut Ummu.
“Tak perlu, Mu.”

Melihat kerasku Ummu tak bersuara. Aku bertekad akan pulang jika ibu menjemput dan memintaku pulang dengan penuh kelembutan. Seperti yang ibu lakukan beberapa tahun yang lalu terhadap Dira, saat gadis itu ikut kemah bersama organisasi pramukanya di tengah hutan. Saat berhari-hari Dira tak pulang ibu luar biasa panik. Kemudian ibu meminta ayah menyusul Dira. Ketika tiba di rumah Dira disambut bagai ratu, syukuran besar-besaran lagi-lagi digelar karena tak terjadi apa-apa terhadap gadis tinggi semampai itu.
Saat ingatanku menerobos ke masa lalu tiba-tiba handphoneku bergetar, nomor rumah. Aku berharap itu ibu.
“Ibu masuk rumah sakit, Non,” terdengar suara Bik Warsih, pembantu di rumah kami.
“Kapan? Kenapa?” tanyaku bertubi-tubi.

“Sejak dua hari yang lalu…”
“Kenapa saya baru dihubungi sekarang?” potongku.
“Nomor non Farah tidak bisa dihubungi dari kemarin.”
Aku menelan ludah pahit. Menyesal mematikan handpone selama dua hari ini. Begitu sambungan ditutup aku bergegas ke rumah sakit.

Saat tiba di ruangan icu kulihat tubuh ibu dibalut selang infuse. Aku menangis melihat kondisi ibu.
“Ibu sakit apa?” tanyaku pada ayah yang memegangi lengan ibu.
“Dua hari yang lalu kaki ibu terpeleset saat mau ke luar kamar mandi.”
“Lalu…” kejarku tak sabar.

Ayah diam sambil menyeka matanya yang basah. Aku menunggu.
“Kepala ibu pecah, darah menyembur, dokter bilang ibu harus dioperasi. Tetapi sejak dioperasi ibu belum sadar sampai sekarang.”
Aku merinding mendengarnya.

***

Ini sudah memasuki pekan kedua, tapi kondisi ibu tidak ada memperlihatkan perkembangan berarti.
Kugenggam jemari ibu erat-erat. Pelan tangan itu bergerak. Aku tersentak. Kulihat bibir ibu juga bergerak. Seperti mengeluarkan suara meski tak jelas. Kudekatkan telingaku ke bibir ibu.
“Farah,” ucap ibu.

Aku tak yakin pada pendengaranku.
Hening. Aku semakin mendekatkan telingaku, menunggu perempuan itu memanggilku. Tapi mulut itu tak lagi bersuara. Namun rasa gembira tetap menyergapku.
“Dimana Dira dan ayahmu?” ibu bertanya tiba-tiba.
“Mereka di luar, biar…” gegas aku beranjak dari pembaringan ibu.
“Jangan!” cegah ibu.
Aku berbalik.

“Saat ini ibu ingin berdua saja denganmu.”
Aku menoleh. Menduga-duga. Kulihat wanita itu menarik nafas.
“Ibu tahu kau cemburu pada Dira. Ibu tak pernah merayakan apapun saat kau meraih sesuatu.”
Sunyi sesaat.

“Ketahuilah, Nak. Biaya syukuran itu mahal, itulah sebabnya ibu hanya membuatnya untuk Dira,” kata ibu dengan mata bertelaga.
Aku diam saja.
“Jika perhatian ibu lebih besar pada Dira karena menurut ibu Dira tak sekuat kau.”
“Ibu menyayangiku?” tanyaku dengan suara bergetar.
Ibu tak segera menjawab. Pelan wanita itu bangkit seraya memelukku, “Tak ada orang tua yang tak sayang anaknya,” ucap ibu diantara isaknya.

Meski semula enggan, pelan-pelan aku membalas pelukan ibu. Beberapa saat tak ada suara. Kurasakan ibu semakin mempererat pelukannya. Lama. Namun saat aku melerai pelukan, kudapati ibu tak lagi bergerak. Tubuhnya sedingin es.

***

Hari ini 28 Desember. Hari jadi ibu. Gundukan tanah di depanku masih merah. Kuelus nisan ibu. Mengingat saat-saat terakhir bersama ibu setumpuk cemburuku pada Dira lenyap. Pelan kutengadahkan wajah menatap langit, dalam diam aku berdoa agar langit menjaga ibu dari atas, “Selamat ulang tahu, Bu,” bisikku.

* Desi Sommalia Gustina
Mahasiswi UIR, Pekanbaru.

Riau yang Risau

Sebentar lagi ada Pilgub di Provinsi Riau. Sebagai anak Riau yang kembali Risau sungguh pedih membayangkan ambisi para cagub dan kehidupan anak Sakai. Kedaulatan atas kesejahteraan yang selama ini dijajah, harus tetap menjadi inti perjuangan dan ‘harga mati”. Sebagai pihak yang terciderai oleh kekejaman politik, saran saya mari pilih pemimpin Riau yang bijak. Rayuan semanis apapun itu bukan jamannya lagi, karena di Riau masih banyak terdapat anak petani, anak nelayan, anak penyadap karet, penggali pasir dan pencari kayu bakau yang belum bersekolah, terbaring karena menderita ISPA akibat asap dan limbah sungai Siak…..

Pesta demokrasi tersebut akan di helat pada akhir September 2008 mendatang. Tepatnya akhir menjelang berakhirnya bulan suci ramadhan 1429 Hijriah. Pertanyaannya sekarang, siapa yang akan dipilih Rakyat Riau untuk memegang teraju kepemimpinan di negeri yang dikenal kaya akan bahan baku minyak bumi dan minyak sawit itu ?

Pilkada Gubernur (Pilgub) di Riau diikuti 3 pasang calon gubernur. Calon yang bersaing tersebut pasangan mantan gubernur Rusli Zainal-Mambang Mit (RZ-MM), Thamsir Rahman-Taufan Andoso Yakin (Tampan), dan mantan Ketua DPRD Riau, drh Chaidir-Suryadi Khusaini(CS).

Melihat asal usul masing-masing calon pada Pilgub Riau 2008, contents lokal tampaknya lebih mendominan pada wajah calon elite Riau Satu. Rusli Zainal asli Inhil, Thamsir lama bercokol di Indragiri Hulu, sementara drh Chaidir adalah anak watan yang di dilahirkan di Pemandang, dusun kecil di Kecamatan Rokan IV Koto, Rokanhulu.

Jadi, saya yakin, pada Pilgub Riau, isu putra daerah dan non putra daerah takkan berkembang seperti pengalaman pada Pilkada Provinsi Kepri 4 tahun silam.

Bila ditengok data daftar pemilih tetap KPUD Riau, jumlah rakyat yang akan mengikuti Pilgub di Riau sebanyak 3.205.849 orang. Penduduk pemilih sebanyak itu tersebar di 9 (sembilan) Kabupaten dan 2 Kota masing masing, kabupaten Kampar (415.344 jiwa ), kabupaten Pelalawan (213.399 jiwa), kabupaten Rokan Hulu (265.686 jiwa) , kabupaten Rokan Hilir (507.303), Kabupaten Siak (313.842 jiwa), Kabupaten Bengkalis (1,25 juta), Kota Dumai (162.449 jiwa), Kota Pekanbaru (717.000 jiwa ) , Kabupaten Kuantan Singingi (221.676 jiwa), Kabupaten Indragiri Hulu (50.000 jiwa), dan Kabupaten Indragiri Hilir ( 624.450 jiwa).

Berkaca pada angka penduduk diatas, lima lumbung suara terbanyak terdapat di Kabupaten Bengkalis, Kota Pekanbaru, Indragiri Hilir, Rokan Hilir, dan di Kampar. Bicara kharismatik masing-masing calon, antara Rusli, Thamsir dan Chaidir, masing-masing punya pesona di mata Rakyat. Kekuatan Rusli tampaknya di topang penuh oleh personal Mambang Mit, birokrat berlatar belakang ekonomi, dikenal santun dan pernah menduduki jabatan strategis yaitu Sekretaris Daerah (Sekda) di Pemko Batam.

Bicara peluang, pengaruh Rusli Zaenal - Mambang Mit (RZ-MM) tampaknya dibayangi oleh sosok kharismatik Chaidir. Sebagai tokoh tua di Golkar, kubu Rusli dianggap tak sepaham dengan kelompok tua Golkar. Asal usulnya karena kasus Saleh Djasit dan Tengku Azmun Jaafar. (ikutan polling pilgub riau)

Peluang Rusli kuat, karena wakil Chaidir dan wakil Thamsir Rahman yaitu Topan Andoso Yakin dan Suryadi yang merupakan figur sentral masyarakat Jawa di Riau, ikut pula bertarung pada lapis kedua yaitu membidik kursi wakil Gubernur Riau. Dengan kondisi ini, besar kemungkinan suara warga Jawa di Riau terpecah belah. Lantas bagaimana dengan suara PKS Riau ?

Karena Wan Abu Bakar bersiteru dengan Rusli Zaenal soal ilegal logging yang sempat panas dan merenggangkan hubungan keduanya di masa bersatu memimpin Riau diyakini mesin politik PPP Riau akan terkecai.

Sebagai anak manis, suara kader PKS diprediksi banyak lari ke kubu Chaidir yang dikenal intelek oleh kelompok muda Riau. Sebagai tokoh PPP, dengan menjadi Plt Gubernur Riau, Wan Abu Bakar punya banyak peluang untuk mewujudkan obsesi politiknya.

Dari aspek kewilayahan, Rusli tampaknya hanya akan didukung oleh kubu Inhil. Inhu yang notabene “kampung” Thamsir dan Mambang Mit, suara yang ada tak bisa di andalkan kecuali di Kuantan Singingi. Sama halnya dengan suara pemilih di Pekanbaru. Bisa saja orang minang di Riau, tak lagi mendukung Rusli seperti pada pemilihan Gubernur Riau yang lalu. Di Kabupaten Kampar, kalau suara PAN yang notabene didukung kelompok Muhammadiyah kuat, kubu Rusli pasti akan keteteran mencari suara di kota yang berjuluk; Serambi Makkah Riau itu.

Di Bengkalis sebagai lumbung suara teratas pada Pilgub Riau 2008, tampaknya faktor gagalnya pemekaran Kabupaten Meranti dan Kabupaten Mandau menjadi batu sandungan paling fatal dalam karir politik Rusli Zaenal-Mambang Mit (RZ-MM). Sekedar catatan , di Rohil sekarang berkembang istilah baru, “Asal Jangan Rusli”.

Hanya Dumai yang bisa di andalkan Golkar yang mengusung RZ-MM. Tapi di Siak terutama Perawang, pendukung Suryadi takkan tinggal diam untuk memenangkan pasangan Chaidir dan Suryadi (PDI-Perjuangan). Begitu pula di Rohul dan Rohil. Chaidir akan berperan, karena dia budak Rohul yang diyakini bisa mengajak warga Rohil untuk bergabung memenangkannya.

Sementara orang Kepri di Riau mungkin cenderung memilih Rusli dan Mambang Mit, karena keduanya telah berjasa terhadap pembentukan Provinsi Kepri semasa Rusli menjadi Gubernur dan Mambang sebagai Setda Kota Batam.

Di Kepri, bekas wilayah propinsi Riau, peluang Chaidir lemah karena sewaktu menjadi ketua DPRD Riau, Chaidir dianggap tidak pro dengan perjuangan masyarakat Kepri untuk membentuk provinsi sendiri.

Hanya saja, senator Riau itu dinilai berkelas di riau daratan karena memiliki kemampuan intelektual yang lumayan bagus. Ia rajin menumpahkan kegelisahaannya terhadap Riau melalui kumpulan buku yang ia tulis. Chaidir pun dikenal sebagai kalangan intelektual muda, jebolan dua universitas ternama di Australia.

Sedangkan Thamsir Rahman, ia lama menjadi bupati Inhu. Sepak terjangnya di hormati oleh kalangan pejabat di Riau karena terbilang senior di birokrasi.

Tak Perlu Pangkat Tinggi

Sedari kecil, saya masih ingat pesan orang tua saya. Menurut mereka yang hanya berijazahkan SD, setinggi apapun pangkat, gelar atau jabatan, keelokan budi harus di nomorsatukan. Dan hari ini orang Riau yang mulai dikenal “kaya” butuh itu. Kedaulatan atas kesejahteraan yang selama ini dijajah, harus tetap menjadi inti perjuangan dan ‘harga mati”. Selama ini, karena Riau terlalu dinamis dengan doktrin “otoriter” ubun-ubun orang “Riau yang selalu Dihisap” hingga lunglai.

Kepada para calon Gubernur yang tengah bersimpati kepada Rakyat, Pilkada sebenarnya tak cukup dengan memajang janji manis pada baliho ukuran all big size di setiap perempatan dan simpang jalan. Rayuan semanis apapun itu bukan jamannya lagi, karena di Riau masih banyak terdapat anak petani, anak nelayan, anak penyadap karet, penggali pasir dan pencari kayu bakau yang belum bersekolah, terbaring karena ISPA dan menderita akibat limbah di sungai Siak.

Sebagai anak Riau yang kembali Risau sungguh pedih membayangkan ambisi para cagub dan kehidupan anak Sakai. Terpinggirkan di antara sambungan pipa minyak mentah yang dialirkan dari ribuan sumur minyak yang di kelola PT Pertamina dan perusahaan minyak asing. Belum lagi, kisah pilu suku kubu yang hidup merana karena luasan hutan Riau yang mulai menipis. Oleh karenanya, sebagai pihak yang terciderai oleh kekejaman politik, saran saya mari pilih pemimpin Riau yang bijak. Bak bidal orang tua, Raja zalim jangan lagi disembah. (*)

Sabtu, 25 Juli 2009

gak perlu di inngat

“Dari mata turun ke hati”. Kalimat itu kayaknya udah familiar banget di sekitar kita. Sama halnya dengan cinta pertama. Berawal dari melihat, eh taunya malah kepikiran. Nggak heran kalau cinta pertama yang berawal dari mata turun ke hati itu memiliki cerita tersendiri di nadi kehidupan setiap insan manusia. Jelas dong, namanya juga pertama, semua terjadi secara pertama.

Banyak yang percaya tentang adanya cinta pertama (87,3 persen). Itu bagi yang telah merasakannya dan bagi yang belum kecipratan rasa cinta pertama tentunya pada masih belum yakin (12,7 persen).

Percaya atau nggak, banyak sobeX yang nggak ingin mengingatnya alias no comment (39,7 persen). Tapi tentu bagi yang memiliki cerita indah, cinta pertamanya begitu mengesankan (31 persen). Bagi yang menganggap cinta pertama hanya sebuah pelengkap cerita hidupnya, kesan cinta pertama pun terasa begitu biasa aja (16,3 per sen).

Salah seorang siswa SMP Negeri 8 Pekanbaru M Raisman pun turut memberi komentar tentang pengalamannya. Ia sangat percaya tentang adanya cinta pertama, sebab dia pernah merasakannya.

“Aku percaya ada cinta pertama. Pacar aku sekarang, itu cinta pertamaku,” ucap cowok penggemar daging panggang ini.

Meski percaya dengan adanya cinta pertama, tapi buat cowok yang duduk di bangku kelas IX ini, cinta pertama itu tidak mengesankan alias biasa aja. Kok gitu? “Aku merasa memang biasa aja, mungkin karena aku mendapatkan dia terlalu cepat dan tidak banyak perjuangan. Kebetulan dia juga menyukai aku. Jadi, ya biasa aja rasanya,” ungkapnya.

Permainan Tradisional di Sekolah

Kalau saya dulu di sekolah masih diajarkan guru-guru permainan rakyat, sekarang agak jarang. Mungkin nggak pernah lagi. Makanya, yang perlu kita lakukan bagaimana menyelamatkan dan melestarikan permainan rakyat. Ini bukan berarti kita anti permainan modern.

Kita berharap, di sekolah sekarang ini, dari SD-SMA sudah ada mata pelajaran muatan lokal, budaya Melayu. Nah, disitu, bisa dimasukkan permainan rakyat. Salah satu aspek dari materi itu adalah tentang permainan rakyat. Saya rasa, ini salah satu cara efektif, harus melalui dunia pendidikan. Selain itu, adaptasi (games) teknologi (, jadi kontennya (isi) tradisional, tapi dikemas dalam bentuk modern