Pages

Kamis, 30 Juli 2009

Riau yang Risau

Sebentar lagi ada Pilgub di Provinsi Riau. Sebagai anak Riau yang kembali Risau sungguh pedih membayangkan ambisi para cagub dan kehidupan anak Sakai. Kedaulatan atas kesejahteraan yang selama ini dijajah, harus tetap menjadi inti perjuangan dan ‘harga mati”. Sebagai pihak yang terciderai oleh kekejaman politik, saran saya mari pilih pemimpin Riau yang bijak. Rayuan semanis apapun itu bukan jamannya lagi, karena di Riau masih banyak terdapat anak petani, anak nelayan, anak penyadap karet, penggali pasir dan pencari kayu bakau yang belum bersekolah, terbaring karena menderita ISPA akibat asap dan limbah sungai Siak…..

Pesta demokrasi tersebut akan di helat pada akhir September 2008 mendatang. Tepatnya akhir menjelang berakhirnya bulan suci ramadhan 1429 Hijriah. Pertanyaannya sekarang, siapa yang akan dipilih Rakyat Riau untuk memegang teraju kepemimpinan di negeri yang dikenal kaya akan bahan baku minyak bumi dan minyak sawit itu ?

Pilkada Gubernur (Pilgub) di Riau diikuti 3 pasang calon gubernur. Calon yang bersaing tersebut pasangan mantan gubernur Rusli Zainal-Mambang Mit (RZ-MM), Thamsir Rahman-Taufan Andoso Yakin (Tampan), dan mantan Ketua DPRD Riau, drh Chaidir-Suryadi Khusaini(CS).

Melihat asal usul masing-masing calon pada Pilgub Riau 2008, contents lokal tampaknya lebih mendominan pada wajah calon elite Riau Satu. Rusli Zainal asli Inhil, Thamsir lama bercokol di Indragiri Hulu, sementara drh Chaidir adalah anak watan yang di dilahirkan di Pemandang, dusun kecil di Kecamatan Rokan IV Koto, Rokanhulu.

Jadi, saya yakin, pada Pilgub Riau, isu putra daerah dan non putra daerah takkan berkembang seperti pengalaman pada Pilkada Provinsi Kepri 4 tahun silam.

Bila ditengok data daftar pemilih tetap KPUD Riau, jumlah rakyat yang akan mengikuti Pilgub di Riau sebanyak 3.205.849 orang. Penduduk pemilih sebanyak itu tersebar di 9 (sembilan) Kabupaten dan 2 Kota masing masing, kabupaten Kampar (415.344 jiwa ), kabupaten Pelalawan (213.399 jiwa), kabupaten Rokan Hulu (265.686 jiwa) , kabupaten Rokan Hilir (507.303), Kabupaten Siak (313.842 jiwa), Kabupaten Bengkalis (1,25 juta), Kota Dumai (162.449 jiwa), Kota Pekanbaru (717.000 jiwa ) , Kabupaten Kuantan Singingi (221.676 jiwa), Kabupaten Indragiri Hulu (50.000 jiwa), dan Kabupaten Indragiri Hilir ( 624.450 jiwa).

Berkaca pada angka penduduk diatas, lima lumbung suara terbanyak terdapat di Kabupaten Bengkalis, Kota Pekanbaru, Indragiri Hilir, Rokan Hilir, dan di Kampar. Bicara kharismatik masing-masing calon, antara Rusli, Thamsir dan Chaidir, masing-masing punya pesona di mata Rakyat. Kekuatan Rusli tampaknya di topang penuh oleh personal Mambang Mit, birokrat berlatar belakang ekonomi, dikenal santun dan pernah menduduki jabatan strategis yaitu Sekretaris Daerah (Sekda) di Pemko Batam.

Bicara peluang, pengaruh Rusli Zaenal - Mambang Mit (RZ-MM) tampaknya dibayangi oleh sosok kharismatik Chaidir. Sebagai tokoh tua di Golkar, kubu Rusli dianggap tak sepaham dengan kelompok tua Golkar. Asal usulnya karena kasus Saleh Djasit dan Tengku Azmun Jaafar. (ikutan polling pilgub riau)

Peluang Rusli kuat, karena wakil Chaidir dan wakil Thamsir Rahman yaitu Topan Andoso Yakin dan Suryadi yang merupakan figur sentral masyarakat Jawa di Riau, ikut pula bertarung pada lapis kedua yaitu membidik kursi wakil Gubernur Riau. Dengan kondisi ini, besar kemungkinan suara warga Jawa di Riau terpecah belah. Lantas bagaimana dengan suara PKS Riau ?

Karena Wan Abu Bakar bersiteru dengan Rusli Zaenal soal ilegal logging yang sempat panas dan merenggangkan hubungan keduanya di masa bersatu memimpin Riau diyakini mesin politik PPP Riau akan terkecai.

Sebagai anak manis, suara kader PKS diprediksi banyak lari ke kubu Chaidir yang dikenal intelek oleh kelompok muda Riau. Sebagai tokoh PPP, dengan menjadi Plt Gubernur Riau, Wan Abu Bakar punya banyak peluang untuk mewujudkan obsesi politiknya.

Dari aspek kewilayahan, Rusli tampaknya hanya akan didukung oleh kubu Inhil. Inhu yang notabene “kampung” Thamsir dan Mambang Mit, suara yang ada tak bisa di andalkan kecuali di Kuantan Singingi. Sama halnya dengan suara pemilih di Pekanbaru. Bisa saja orang minang di Riau, tak lagi mendukung Rusli seperti pada pemilihan Gubernur Riau yang lalu. Di Kabupaten Kampar, kalau suara PAN yang notabene didukung kelompok Muhammadiyah kuat, kubu Rusli pasti akan keteteran mencari suara di kota yang berjuluk; Serambi Makkah Riau itu.

Di Bengkalis sebagai lumbung suara teratas pada Pilgub Riau 2008, tampaknya faktor gagalnya pemekaran Kabupaten Meranti dan Kabupaten Mandau menjadi batu sandungan paling fatal dalam karir politik Rusli Zaenal-Mambang Mit (RZ-MM). Sekedar catatan , di Rohil sekarang berkembang istilah baru, “Asal Jangan Rusli”.

Hanya Dumai yang bisa di andalkan Golkar yang mengusung RZ-MM. Tapi di Siak terutama Perawang, pendukung Suryadi takkan tinggal diam untuk memenangkan pasangan Chaidir dan Suryadi (PDI-Perjuangan). Begitu pula di Rohul dan Rohil. Chaidir akan berperan, karena dia budak Rohul yang diyakini bisa mengajak warga Rohil untuk bergabung memenangkannya.

Sementara orang Kepri di Riau mungkin cenderung memilih Rusli dan Mambang Mit, karena keduanya telah berjasa terhadap pembentukan Provinsi Kepri semasa Rusli menjadi Gubernur dan Mambang sebagai Setda Kota Batam.

Di Kepri, bekas wilayah propinsi Riau, peluang Chaidir lemah karena sewaktu menjadi ketua DPRD Riau, Chaidir dianggap tidak pro dengan perjuangan masyarakat Kepri untuk membentuk provinsi sendiri.

Hanya saja, senator Riau itu dinilai berkelas di riau daratan karena memiliki kemampuan intelektual yang lumayan bagus. Ia rajin menumpahkan kegelisahaannya terhadap Riau melalui kumpulan buku yang ia tulis. Chaidir pun dikenal sebagai kalangan intelektual muda, jebolan dua universitas ternama di Australia.

Sedangkan Thamsir Rahman, ia lama menjadi bupati Inhu. Sepak terjangnya di hormati oleh kalangan pejabat di Riau karena terbilang senior di birokrasi.

Tak Perlu Pangkat Tinggi

Sedari kecil, saya masih ingat pesan orang tua saya. Menurut mereka yang hanya berijazahkan SD, setinggi apapun pangkat, gelar atau jabatan, keelokan budi harus di nomorsatukan. Dan hari ini orang Riau yang mulai dikenal “kaya” butuh itu. Kedaulatan atas kesejahteraan yang selama ini dijajah, harus tetap menjadi inti perjuangan dan ‘harga mati”. Selama ini, karena Riau terlalu dinamis dengan doktrin “otoriter” ubun-ubun orang “Riau yang selalu Dihisap” hingga lunglai.

Kepada para calon Gubernur yang tengah bersimpati kepada Rakyat, Pilkada sebenarnya tak cukup dengan memajang janji manis pada baliho ukuran all big size di setiap perempatan dan simpang jalan. Rayuan semanis apapun itu bukan jamannya lagi, karena di Riau masih banyak terdapat anak petani, anak nelayan, anak penyadap karet, penggali pasir dan pencari kayu bakau yang belum bersekolah, terbaring karena ISPA dan menderita akibat limbah di sungai Siak.

Sebagai anak Riau yang kembali Risau sungguh pedih membayangkan ambisi para cagub dan kehidupan anak Sakai. Terpinggirkan di antara sambungan pipa minyak mentah yang dialirkan dari ribuan sumur minyak yang di kelola PT Pertamina dan perusahaan minyak asing. Belum lagi, kisah pilu suku kubu yang hidup merana karena luasan hutan Riau yang mulai menipis. Oleh karenanya, sebagai pihak yang terciderai oleh kekejaman politik, saran saya mari pilih pemimpin Riau yang bijak. Bak bidal orang tua, Raja zalim jangan lagi disembah. (*)

0 komentar:

Posting Komentar